Sederet Fakta Unik Terkait Air Traffic Control di Dunia

Jika kita suka petualangan dan aktivitas luar ruangan seperti travelling, kita pasti sering menggunakan berbagai macam transportasi, yakni di darat, udara maupun di laut. Nama pesawat terbang tentu tidak asing ditelinga kita, sebab dengan menggunakan burung besi udara tersebut, rencana kita untuk ke luar kota dan luar negeri menjadi lebih mudah dan cepat. Sekarang ini, banyak jenis maskapai penerbangan di Indonesia yang sudah terkenal namanya, seperti : Garuda Indonesia, AirAsia Indonesia, Citilink, Batik Air, Lion Air, Sriwijaya Air, Wings Abadi Airlines, dan lainnya.

Setiap bandara pasti memiliki sebuah menara yang menjulang tinggi dan bertugas sebagai pengatur lalu lintas udara terhadap aktivitas penerbangan di bandara tersebut. Sehingga pada teknisnya, semua pesawat harus meminta izin terbang dan pendaratan darurat oleh petugas ATC. Selama berada di udara, pesawat terbang harus tetap berada di jalur penerbangan (airways) yang sudah ditentukan oleh petugas ATC. Biasanya para pilot akan melakukan komunikasi dengan petugas ATC di menara melalui radio komunikasi ataupun radar. 

Adapun yang menjadi pekerjaan utama dari semua petugas Air Traffic Control tersebut yakni : mencegah agar jarak antar pesawat tidak berdekatan, mencegah terjadinya tabrakan antar pesawat, mencegah pesawat mengalami benturan dengan benda-benda di atmosfer, serta bertugas agar seluruh arus lalu lintas penerbangan menjadi lancar. Dalam tugasnya, petugas ATC sangat dekat dengan para pilot, sebab mereka akan membantu pilot untuk mengatasi keadaan darurat, memberikan informasi terkait cuaca, informasi lalu lintas udara, dan juga informasi mengenai navigasi penerbangan.

Sejarah Awal Terbentuknya Air Traffic Control

Menara Air Traffic Control yang pertama dibangun di Inggris pada tahun 1922. Didirikannya menara ATC tersebut karena pernah terjadi insiden kecil di Bandara Croydon, London. Setelah kejadian tersebut membuat pihak DGCA (Directorate General of Civil Aviation) di Inggris memerintahkan kepada pilot agar mendapatkan izin terbang dan sinyal aba-aba terlebih dahulu dari petugas ATC (saat itu disebut sebagai controller). Dan aba-aba tersebut biasanya berbentuk bendera yang berwarna merah. Namun, karena kondisi tanah yang sedikit miring di sekitar area Bandara Croydon, maka posisi bendera tersebut dipindahkan ke salah satu balkon yang terletak di salah satu gedung tertinggi.

Oleh karena itulah, Kementerian Udara Inggris ingin agar kegiatan penerbangan berjalan lancar dan salah satu caranya adalah mendirikan bangunan baru yang tingginya hampir mencapai 15 kaki dan memiliki 4 jendela besar di setiap dindingnya. Sebelum diberi nama Air Traffic Control, dulunya menara tinggi ini disebut dengan “Aerodrome Control Tower”. Selanjutnya, di bulan Juli 1922, di Bandara Croydon mulai dibangun tempat observasi yang gedungnya dikelilingi oleh kaca. Tujuan utama pembangunan gedung ini adalah untuk uji coba alat komunikasi wireless. Namun, seiring berjalannya waktu, keberadaan menara ini justru lebih digunakan sebagai pusat komunikasi untuk semua penerbangan yang dilakukan di Bandara Croydon. Sistem kerjanya, petugas controller menusukan sebuah pin pada peta setelah menerima komunikasi dari pilot dimana posisi pesawat saat itu. Biasanya pin tersebut digunakan sebagai penanda rute pesawat tersebut. Sebab, jika nanti tiba-tiba ada pesawat lain yang mendekat, maka petugas controller tersebut akan melaporkannya kepada pilot. Dari tugas inilah, yang kemudian memunculkan adanya istilah “Advisory Service” pertama di dunia.

Dan pada tahun 1926, sistem pengendalian lalu lintas di udara diubah namanya menjadi “Wireless Traffic Control”, dengan petugas yang disebut sebagai “Control Officer”. Hingga pada tahun 1927, tugas seorang controller yaitu : memberikan informasi kepada pilot terkait keberadaan pesawat lain, dan juga memberikan arahan terbang (direction) kepada pilot yang bertujuan agar bisa menghindari terjadinya tabrakan dengan pesawat lain. Sedangkan orang pertama yang bertugas sebagai air traffic controller yang pertama di dunia yakni Wilbur Wright dan Orville Wright. Mereka melakukan percobaan penerbangan pertama di dunia pada tanggal 17 Desember 1903 di wilayah Kitty Hawk, California. Pada saat itu, Wilbur Wright bertugas sebagai operational watch ketika saudaranya, Orville sedang melakukan penerbangan.

Dalam perkembangannya, adanya kontrol lalu lintas udara ini sudah sangat berkembang pesat. Bahkan di beberapa negara, sudah banyak yang mengembangkan teknologi real-time satellite tracking. Tujuan dari penggunaan teknologi modern ini adalah agar dapat meningkatkan keselamatan serta efektivitas lalu lintas udara di bandara tersebut. Selain adanya teknologi baru itu, sekarang juga ada perangkat teknologi buatan yang tugasnya bisa meminimalisir adanya delay di suatu bandara, terutama delay yang diakibatkan oleh perubahan cuaca. Bahkan di negara Swedia, sudah menggunakan teknologi world’s first remote tower sejak tahun 2019, dan di sana sudah tidak ada lagi menara ATC yang masih beroperasi secara manual. Sehingga, adanya teknologi remote seperti ini, membuat tugas dari petugas ATC semakin ringan, sebab di sana sudah dipasang kamera sebagai pengganti dari petugas. Di samping itu, remote ini juga tidak mengharuskan setiap petugas untuk selalu mengawasi dan berada di dekat menara.

Beberapa Negara Yang Memiliki Menara ATC Tertinggi di Dunia

Di sejumlah negara, keberadaan dari menara ATC ini juga masih sangat berharga, sebab tidak semua negara bisa menerapkan sistem remote tower seperti yang ada di negara Swedia. Dan inilah deretan menara ATC tertinggi yang pernah didirikan di dunia. Yuk, kita lihat apa saja !

1. Bandara Internasional Suvarnabhumi, Thailand

Pada bandara ini memiliki menara ATC tertinggi di dunia yakni mencapai 132,2 meter atau sekitar 434 kaki. Bandara ini memiliki 2 landasan pacu, yakni sebelah timur dan barat. Yang dimana pada landasan pacu sebelah timur memiliki total ukuran 4.000 meter x 60 meter, sedangkan untuk bagian barat memiliki ukuran 3.700 meter x 60 meter. Menara ATC di bandara ini selesai dibangun pada tahun 2005 yang memakan total biaya pembangunan sekitar THB 574,8 M atau setara dengan $18 M. Menara ini memiliki keunggulan pada bagian pemandangan 360 derajat dari wilayah permukaan di bandara seluas 32,4 km2.

2. Bandara Internasional Abu Dhabi, Uni Emirat Arab

Di Bandara Internasional Abu Dhabi memiliki menara ATC tertinggi ke-7 di dunia, menara tersebut berukuran 109 meter atau sekitar 358 kaki. Di menara itu terdapat gedung dengan 20 lantai yang letaknya diantara 2 landasan pacu, dan total area permukaan sebesar 7.000 m2. Menara ATC di Dubai ini didirikan pada tahun 2011, bertujuan agar bandara bisa meningkatkan kapasitas penumpang hingga 27 juta orang per tahunnya (target di tahun 2017) dan naik menjadi 40 juta orang penumpang (di tahun 2030). Di dalam menara ATC ini sudah menggunakan sistem Thales EUROCAT, dimana sistem akan otomatis melakukan pelacakan multi sensor (MSTS) dan dibarengi juga dengan sistem manajemen lalu lintas di udara.

3. Bandara Internasional Wina, Austria

Menara ATC di Wina memiliki tinggi sekitar 109 meter atau 358 kaki dan letaknya yang berada tepat di area pintu masuk utama bandara. Menara yang memiliki jumlah total luas permukaan hingga 3.300 m2. Menara ini memiliki 6 lantai, dan di bagian ruang kontrol utama sengaja dibuat miring 45 derajat agar lebih jelas pandangannya ke area landasan pacu. Dan pada bagian tengah menara digunakan sebagai area proyeksi informasi, karya seni, maupun iklan.

Selain di 3 negara tersebut, menara ATC tertinggi lainnya berada di Bandara Internasional Kuala Lumpur (Malaysia), Bandara Internasional Hartsfield-Jackson Atlanta (Amerika Serikat), Bandara Internasional Haneda / Tokyo (Jepang), Bandara Internasional Guangzhou Baiyun (Tiongkok), Bandara Internasional Kairo (Mesir), Bandara Internasional Indianapolis (Amerika Serikat), dan Bandara Internasional Orlando (Amerika Serikat).